Memetri Bumi Desa Musuk 2025: Tanpa Reog dan Lomba Tumpeng, Memetri Bumi 2 Tetap Berjalan Khidmat

Desa Musuk, Sambirejo, Sragen kembali mengadakan Kirab Budaya Memetri Bumi: Eyang Cokrojoyo Kanjeng Sunan Geseng pada Jum’at Legi, 22 Agustus 2025. Tradisi budaya ini diselenggarakan di Petilasan Eyang Cokrojoyo Kanjeng Sunan Geseng tepatnya berada di puncak bukit yang jaraknya cukup jauh dari pemukiman warga dukuh.
Memetri Bumi merupakan upacara adat yang diadakan dengan tujuan untuk menjaga kelestarian warisan budaya nenek moyang. Penyelenggaraan Memetri Bumi tahun ini merupakan penyelenggaraan tahun kedua setelah petilasan dipugar.
Berbeda dengan pelaksanaan tahun sebelumnya, Memetri Bumi tahun ini dilaksanakan dengan konsep yang lebih sederhana. Di tahun sebelumnya, acara ini melibatkan seluruh RT di Desa Musuk. Namun, tahun ini hanya terdapat 7 RT terdekat yang terlibat, yakni: Karangwaru Lor RT.15, Karangwaru Kidul RT.16, Dukuh Lor RT.17, Dukuh Kidul RT.18, Pondokrejo RT.21, Jatirejo Lor RT.23, dan Jatirejo Kidul RT.24.
Selain itu, perbedaan juga terlihat dari ditidak pentaskannya seni reog dan lomba tumpeng di tahun ini. Gunungan hasil bumi yang tahun lalu dipersembahkan, kali ini digantikan dengan dua tenong tumpeng dari desa dan 7 buah tumpeng yang dibawa oleh warga masing-masing RT. Kedepannya, Memetri Bumi tetap akan diselenggarakan setiap tahun. Tetapi, konsep acara yang besar rencananya hanya akan diadakan setiap tiga tahun sekali. Sehingga, Memetri Bumi dengan konsep acara yang lebih besar dan lengkap rencananya akan diselenggarakan kembali pada tahun 2027.
Rangkaian kegiatan Kirab Budaya Memetri Bumi 2 Eyang Cokrojoyo Kanjeng Sunan Geseng dimulai pukul 07.00 WIB dengan penataan barisan kirab. Barisan kirab dipimpin oleh dipimpin Bapak Mudji selaku Manggolo Yudo atau Cucuk Lampah. Urutan barisan kirab terdiri dari empat pinisepuh, penabuh gamelan, tamu undangan, ibu-ibu PKK, lembaga desa, ketua RT se-Desa Musuk, dan warga dari tujuh dukuh dengan masing-masing RT menjunjung tumpeng di atas kepala. Kegiatan dilanjutkan dengan kirab menuju petilasan. Sebelum naik menuju petilasan, Bapak Mudji berdoa sebagai bentuk permintaan izin untuk memasuki makom di gapuro pintu masuk.
Rangkaian kegiatan Kirab Budaya Memetri Bumi 2 Eyang Cokrojoyo Kanjeng Sunan Geseng dimulai pukul 07.00 WIB dengan penataan barisan kirab yang dipimpin Bapak Mudji selaku Manggolo Yudo atau Cucuk Lampah. Urutan barisan kirab terdiri dari empat pinisepuh, penabuh gamelan, tamu undangan, ibu-ibu PKK, lembaga desa, ketua RT se-Desa Musuk, dan warga dari tujuh dukuh dengan masing-masing RT menjunjung tumpeng di atas kepala. Kegiatan dilanjutkan dengan kirab menuju petilasan. Sebelum naik menuju petilasan, Bapak Mudji berdoa sebagai bentuk permintaan izin untuk memasuki makom di gapuro pintu masuk.
Setelah tiba di petilasan, tamu undangan menempatkan diri dan kegiatan dilanjutkan dengan doa di makom Eyang Cokrojoyo Kanjeng Sunan Geseng yang dipimpin oleh Pinesepuh Memetri. Rangkaian acara berlanjut dengan pemutaran film animasi legenda asal usul Desa Musuk dan petilasan Eyang Cokrojoyo, dilanjutkan penaburan bunga di makom oleh tamu undangan. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pelepasan burung perkutut sebagai simbol melepaskan 'sengkolo', bala bencana, dan penyakit.
Selanjutnya, Pak Suharno selaku Lurah Desa Musuk melaporkan kegiatan Kirab Budaya Memetri Bumi 2 Eyang Cokrojoyo Kanjeng Sunan Geseng kepada tamu undangan dan warga masyarakat, lalu masuk pada sesi rangkaian sambutan para pejabat tamu kehormatan. Kegiatan berlanjut dengan ikrar slametan memetri bumi. Acara dilanjutkan dengan ritual guwakan dan cethutan, kemudian ditutup dengan kegiatan makan bersama seluruh panitia, tamu undangan, dan peserta sebagai simbol persatuan masyarakat.