Diceritakan bahwa Raja Demak menerima laporan dari prajurit Telik Sandi (Prajurit Mata-mata ) bahwa Raja Brawijaya telah melanggar kesepakatan dengan membangun Candi Ceto dan Candi Sukuh yang berada di Wilayah Barat Gunung Lawu. Seperti telah di sepakati sebelumnya bahwa Gunung Lawu telah dibagi 2 wilayahnya yaitu wilayah sebelah barat Gunung menjadi Wilayah kekuasaan Raja Demak ( Kerajaan Islam ) dan di wilayah sebelah timur Gunung menjadi kekuasaan Raja Brawijaya ( Kerajaan Majapahit Hindu ).
Maka Raja Demak Beliau Raden Patah mohon pertolongan Kanjeng Sunan Kalijogo untuk melihat kebenaran dari berita dari telik sandi tersebut, maka berangkatlah Kanjeng Sunan Kalijogo dengan beberapa murid pengikutnya. Keberangkatan Kanjeng Sunan Kalijogo dengan menyusuri Sungai. Singkat cerita rombongan Kanjeng Sunan Kalijogo sampailah di pinggir sungai Kenatan ( saat ini masuk wilayah Dk. Musuk Rt 19, Desa Musuk). Di pinggir Sungai Kenatan inilah ada salah satu murid Kanjeng Sunan Kalijogo yaitu yang bernama Cokrojoyo merasa kelelahan dan mohon ijin untuk beristarahat. Oleh Kanjeng Sunan Kalijogo diperbolehkan untuk beristirahat di pinggir sungai Kenatan, dengan pesan jangan meninggalkan tempat ini sebelum di jemput oleh beliau. selanjutnya Kanjeng Sunan Kalijogo melanjutkan perjalanan ke arah Gunung Lawu.
Setelah ditinggal sang guru, cokrojoyo melihat daerah sekitar sungai kenatan tersebut, dan banyak sekali di jumpai lebah Suk ( sejenis lebah Kepala / Tawon Ndas tapi bersarang di tanah) maka berkatalah Cokrojoyo apabila suatu saat nanti daerah tersebut ramai maka diberi nama Musuk.
Selanjutnya Cokrojoyo berketetapan hati untuk mengangkat derajat dan memulyakan penduduk di wilayah tersebut, sampai terucap bahwa beliau rela terbakar tubuhnya asalkan bisa mewujudkan keinginannya itu. Maka bertapalah cokrojoyo, karena terdorong oleh ketetapan hati yang sangat kuat dalam bertapa tersebut badan beliau sampai mengeluarkan hawa yang sangat panas, dan mematikan tanaman di sekitar daerah tempat bertapa beliau.
Dan tanpa tahu asal mulanya ada percikan api sehingga mengakibatkan terbakarnya tempat bertapa dan badan beliaupun ikut terbakar, Setelah api padam seluruh badan Cokrojoyo menjadi hitam / gosong / geseng. Setelah sekian lama Kanjeng Sunan Kalijogo datang menjemput muridnya Cokrojoyo. Betapa kagetnya Kanjeng Sunan Kalijogo melihat seluruh badan Cokrojoyo telah berubah menjadi geseng. Maka untuk mengingat peristiwa ini Cokrojoyo diberi gelar Sunan Geseng oleh Kanjeng Sunan Kalijogo.
Dan untuk mengingat daerah pinggir kali Kenatan tempat bertapa beliau maka kanjeng sunan geseng membuat Petilasan di Bukit Sentono dan sampai sekarang dinamakan Petilasan Eyang Cokrojoyo Kanjeng Sunan Geseng. Adapun makam yang berjumlah 9 yang berada di petilasan tersebut sampai saat ini kami belum bisa mendapatkan informasi yang akurat. Namun demikian ke 9 makam yang berada di petilasan Eyang Cokrojoyo Kanjeng Sunan Geseng adalah peninggalan kuno yang berumur ratusan tahun dengan bukti adanya batu nisan kuno.